MAKALAH
PESANTREN DAN ASWAJA AN-NAHDLIYAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Makalah Ahlussunnah wa al Jama`ah
Dosen Pengampu : Alex Yusron Al Mufti, S.Ag., M.S.I
Disusun oleh :
1. Khoirul Huda (201310004402)
2. Wiwin Noviyanti (201310004423 )
3. Riskina Oktafia (201310004444)
Kelas : 1PAI A7 (R2)
Mata Kuliah : Ahlussunnah wa al Jama`ah
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NADHLATUL ULAMA JEPARA
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas izin dan karuniaNya, penulis bisa menyelesaikan makalah ini tepat waktu dengan penuh kemudahan. Tak lupa sholawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi agung Muhammad Saw. Semoga kelak kita diberikan syafaatnya pada hari akhir.
Makalah ini membahas tentang “pesantren dan aswaja an-nahdliyah”. Makalah ini dibuat karena menjadi tugas Ahlusunnah Wa aljamaah, yang bertujuan agar mahasiswa mampu mengetahui pengertian pesantren, peranan pesantren terhadap aswaja, serta sejarah dan perkembangan pesantren dalam pengembangan aswaja.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang ikut membantu penulis, sehingga dapat terselesaikan makalah ini dengan baik. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini masih banyak kekurangannya baik dalam hal penulisan maupun dalam penyusunan kalimatnya. Penulis juga memohon kepada pembaca untuk memberikan saran dan kritiknya. Terima Kasih.
Jepara, 9 Januari 2021
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PEMBAHASAN
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PEMBAHASAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PESANTREN
B. PERANAN PENTING PESANTREN DALAM PENGEMBANGAN ASWAJA
C. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PESANTREN DI NUSANTARA
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PEMBAHASAN
Nahdlatul Ulama atau yang lebih dikenal dengan NU merupakan salah satu organisasi islam terbesar dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia yang dipelopori oleh ulama yang berbasis di pesantren pesantren. NU merupakan organisasi social keagamaan berhaluan ahlussunnah wal jama’ah yang didirikan K.H. Hasyim Asyari, K.H. Bisri Syamsuri, dan beberapa ulama lainnya pada tanggal 31 januari 1926.
Tujuan didirikannya NU adalah memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran islam Ahlussunnah Waljamaah yang menganut salah satu madzhab empat, dan mempersatukan langakah para ulama dan pengikut pengikutnya serta melakukan kegiatan kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat serta martabat manusia.
Dalam perkembangannya NU di Indonesia juga membuka cabang-cabang organisasi di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional asli Indonesia, yang munculnya bersamaan dengan misi dakwah Islam di kepulauan Melayu – Nusantara sekitar abad 13 dan ada pendapat lain sekitar abad 14. Jika kita. telusuri perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia jauh ke masa lampau, akan sampai pada penemuan sejarah, bahwa pondok pesantren adalah salah satu bentuk peradaban Indonesia yang dibangun sebagai institusi pendidikan keagamaan yang bercorak tradisional, lebih unik dan “Indigenous Culture” atau bentuk kebudayaan asli Indonesia. Pondok pesantren yang dahulunya cenderung tertutup, sekarang lebih terbuka dan dikemas lebih modern.
Melihat keberadaan pondok pesantren NU, ini bisa digunakan sebagai benteng pluralisme dalam konteks Indonesia, dengan pendidikan kepada santri-santrinya yang nanti setelah lulus bisa diabdikan dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga kurikulum yang diajarkannya harus memuat nilai-nilai inklusifisme, seperti misalnya tentang toleransi dan pluralisme. Hal tersebut bertentangan dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia), lembaga yang dibentuk oleh pemerintah yaitu MUI, mengeluarkan fatwa haram untuk pluralisme. Tetapi ada perbedaan pendapat tentang fatwa haram mengenai pluralisme itu di kalangan umat Islam dan NU sendiri, ada yang setuju dan ada yang mempertanyakannya. Pondok pesantren Edi Mancoro adalah salah satu dari pondok pesantren NU, yang didirikan oleh KH Mahmud Ridwan (beliau adalah sahabat dari Abdurrahman Wahid atau Gus Dur), yang berdiri pada 25 Desember 1989.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi Pesantren ?
2. Bagaimana Peran pesantren terhadap perkembangan Aswaja ?
3. Bagaimana sejarah dan perkembangan pesantren di Nusantara ?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
1. Mengetahui definisi pesantren
2. Mengetahui peran pesantren terhadap Aswaja
3. Mengetahui sejarah dan perkembangan pesantren di Nusantara
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Pesantren
Pesantren berasal dari kata “santri” yaitu istilah yang pada awalnya digunakan bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama di lembaga pendidikan tradisional Islam di Jawa dan Madura. Kemudian kata “santri” mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” , yang berarti tempat para santri menuntut ilmu.
Sebuah pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswa tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seseorang (atau lebih) guru yang biasa disebut dengan “kyai”.
Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan pendidikan lainnya. Pendidikan di Pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan , dan pendidikan lainnya yang sejenis. Para peserta didik pada pesantren disebut “santri” yang umumnya menetap di Pesantren, disebut dengan istilah “pondok”. Dari sinilah timbul istilah “Pondok pesantren”.
Menurut Menteri Agama Lukman Hakim, Ada tiga ciri utama pondok pesantren, yaitu: pertama, semua pondok pesantren selalu mengajarkan paham Islam yang moderat. Ciri kedua, keluarga besar pesantren, tidak hanya tercermin dari para pimpinan atau kyainya, tapi juga para santrinya, memiliki jiwa besar dalam mensikapi keragaman. Mereka tidak mudah terpancing untuk melihat persoalan secara hitam putih atau mudah menyalah-nyalahkan. Ciri ketiga, setiap pesantren selalu mengajarkan cinta Tanah Air. Hanya di wilayah, daerah, dan negara yang damai sajalah syariat Islam, nilai-nilai kebajikan bisa dijalankan dengan baik.
Peran pesantren dalam proses penyebaran islam bisa dilihat dari kegiatan dakwah Walisongo di Jawa. Hubungan antara lahirnya pesantren dan proses penyebaran islam cukup banyak bukti, selain tercatat secara dalam berbagai naskah akademik hasil penelitian para ahli , juga bisa dilihat dari berbagai situs sejarah Islam yang tersebar di wilayah Nusantara. Dapat dinyatakan bahwa hampir semua peradaban Islam dapat ditemukan dekat hubungannya dengan pesantren.
Pesantren merupakan lembaga tradisional Islam yang sudah ada jauh sebelum NU didirikan. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang merawat tradisi ahlussunnah waljamaah, pesantren eksis dan memegangi literature kitab kuning yang diajarkan oleh kiai. Bahkan jauh sebelum NU meneguhkan sebagai ormas islam berbasis ahlussunnah waljamaah, pesantren telah bersandar pada tradisi sunni. Para kiai mengajarkan kitab kuning yang ditulis para ulama sunni kepada santrinya.
B. PERANAN PENTING PESANTREN DALAM PENGEMBANGAN ASWAJA
Melihat kembali peran pesantren dalam mengembangkan ASWAJA. Jauh sebelum Indonesia lahir sebagai Negara merdeka pada 17 Agustus 1945, pesantren-pesantren sudah berdiri. Pesantren adalah asrama pendidikan islam tradisional di mana para siswa tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan seorang guru yang disebut kiai. Prespektif sejarah, awal berdirinya pesantren erat hubungannya dengan proses islam masuk di nusantara. Peran pesantren dalam proses penyebaran islam bisa dilihat dari kegiatan dakwah Walisongo di Jawa. Hubungan antar lahirnya pesantren dan proses penyebaran islam cukup banyak bukti, selain tercatat secara dalam berbagai naskah akademik hasil penelitian para ahli, juga bisa dilihat dari berbagai situs sejarah islam yang tersebar di wilayah Nusantara. Dapat dinyatakan bahwa hampir semua peradaban islam dapat ditemukan dekat hubungannya dengan pesantren.
Pesantren dibangun dari pengalaman masyarakat islam Indonesia dalam kegiatan transmisi ajaran islam dengan berbagai karakternya yang sangat unik. Peran pesantren telah hadir di tengah tengah masyarakat Indonesia sebagai salah satu lembaga keagamaan yang berfungsi mendorong lahirnya peradaban islam di Nusntara. Pesantren merupakan lembaga tradisi islam yang sudah ada jauh sebelum NU didirikan. Sebagai lembaga pendidikan islam yang merawat tradisi ahlussunnah wal jama’ah, pesantren eksis dan memegangi literatur kitab kuning yang diajarkan oleh para kiyai. Bahkan jauh sebelum NU meneguhkan sebagai ormas islam berbasis ahlussunnah wal jama’ah, para kiai mengajarkan kitab kuning yang ditulis para ulama sunni kepada santrinya.
Jadi karakteristik keislaman an Nahdhatul Ulama (NU) yang berbasis dengan tradisi sunni, tidak lepas dari pemikiran NU yang dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah tradisi pesantren jawa yang sudah lama eksis dan dibangun diatas basis sunni. Dan banyak pesantren di Indonesia yang mengajarkan ilmu keislman seperti ilmu Tauhid atau aqidah menurut rumusan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dengan menggunakan karya-karya ilmiyah klasik oleh para pengikut kedua imam tersebut, menurut catatan sejarah bahwa yang mendirikan Nahdlatul Ulama adalah para ulama pondok pesantren. Mereka memiliki kesamaan wawasan, pandangan, sikap, perilaku dan tata cara pemahaman serta pengalaman ajaran agama islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah. Keberadaan Nahdlatul Ulama merupakan organisasinya masyarakat pesantren.
Hubungan antara Nahdlatul Ulama dengan pondok pesantren dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut:
1. Kesamaan tujuan yaitu melestarikan ajaran islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang merupakan materi pokok pengajaran agama islam di pondok pesantran.
2. Nahdlatul Ulama didirikan sebagai wadah bagi usaha mempersatukan langkah para ulama pondok pesantren di dalam pengembangan tugas pengabdiannya dalam masyarakat, baik bidang agama, pendidikan, maupun persoalan kemasyarakatan lainnya.
3. Pengaruh yang dimiliki oleh para kiai pengasuh pondok pesantren di lingkungan masyarakat juga menjadi kekuatan pendukung bagi Nahdlatul Ulama. Anggota yang dikenal dengan sebutan “kaum santri” menjadi salah satu pilar penyangga kekuatan Nahdlatul Ulama, bahkan menjadi salah satu ciri khas yang membedakan nya dengan organisasi-organisasi islam lainnya.
Tujuan Nahdlatul ulama didirikan adalah berlakunya ajaran islam yang menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menurut salah satu dari madzhab empat untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat dengan melaksanakan dakwah islamiyah dan amar ma’ruf nahi munkar.
C. Sejarah Pesantren
Pondok pesantren sudah dikenal sejak abad ke-15 Masehi. Tokoh yang dianggap sebagai perintis berdirinya pondok pesantren adalah Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M). Dalam melaksanakan dakwah Islam beliaumenggunakan masjid dan pondok pesantren sebagai pusat pembelajaran.Model dakwah Islam tersebut dilanjutkan oleh para Walisongo sehingga pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia dalam perkembangan berikutnya pondok pesantren didirikan oleh para kiai yang bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.Pada tahun 1619 Raden Rahmatullah (Sunan ampel) mendirikanmasjid dan pondok pesantren di Kembang Kuning, kemudian dipindahkan ke Ampel Surabaya.
Pondok pesantren ini sangat terkenal dan mempunyai pengaruh yang sangat luas di seluruh Jawa Timur. Banyak santri yang datang dari berbagai daerah untuk belajar di pondok pesantren ini. Para santri Ampel yang telah menyelesaikan belajarnya kembali ke daerahnyamasing-masing dan mendirikan pondok pesantren baru, seperti : Sunan Giridi Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Lamongan dan Raden Patah di Demak Jawa Tengah.Dalam perkembangan berikutnya pondok pesantren didirikan oleh para kiai yang bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama islam.Pada mulanya mereka mendirikan masjid/langgar sebagai tempat shalat Berjama’ah dan pengajian tentang keimanan, ibadah dan akhlak. Kedalaman ilmu agama kepribadian dan perilaku yang dilandasi keikhlasandanakhlakul karimah dapat menarik para penduduk untuk mengikuti kegiatandakwahnya. Bukan hanya orang sedesanya yang mengikuti pengajian, tetapi banyak juga orang dan desa lain yang mengikutinya. Untuk menampung para santri dari desa lain yang ingin belajaragama Islam secara mendalam, maka muncullah gagasan untuk mendirikan Asrama bagi mereka. Gagasan itu disampaikannya kepada para jama’ah dan Merekapun memberikan dukungan dengan ikut berperan serta membangun pondok pesantren.Demikianlah pondok pesantren tumbuh dan berkembang diIndonesia sejak awal .
pertumbuhan dan perkembangan agama Islam.Tujuannya selain mengajarkan agama Islam, juga mencetak kader-kaderulama dan mubaligh. Karena itu wajar jika dikatakan bahwa pondok pesantren merupakan benteng pertahanan bagi keberlangsungan dakwahIslam di Indonesia
D. Pengaruh pesantren dalam pengembangan Aswaja
Secara umum, ulama dan kyai pesantren memiliki santri sekaligus Sebagai jama’ah yang jumlahnya diakui cukup besar, dengan sistem pola Hubungan antara santri dan kyai, terutama pada lingkungan masyarakat,khususnya di jawa. Pola ini mampu mewarnai dan sekaligus membentuk subkultur tradisionalis Islam di Nusantara. Oleh karenanya, kehadiran organisasi NU bisa dipandang sebagai upaya mewadahi dan melembagakanlangkah kegiatan serta ikhtiyar para ulama yang telah dilakukansebelumnya. Para ulama pesantren tergabung dalam NU secara umum dapatdikatakan memiliki kesamaan wawasan, pandangan dan tradisi keagamaanyang berlandaskan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA).Nahdlatul Ulama dan Pondok pesantren itu bagaikan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Apabila menyebut NU kita mesti ingat pondok pesantren dan sebaliknya. Mengapa demikian? Karena yang mendirikan Nahdlatul Ulama adalah para ulama pondok pesantren. Mereka memilikikesamaan wawasan, pandangan, sikap, perilaku dan tata cara pemahaman serta pengamalan ajaran Islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah.Ibarat sebuah keranjang, kelahiran Nahdlatul Ulamapondok pesantren.Karena itu wajar jika dikatakan bahwa Nahdlatul Ulama itu adalahorganisasinya masyarakat pesantren.
Pesantren dalam pengembangan Aswaja
1. Santri atau murid lebih paham mengenai ahlussunnah wal jamaah dan dapat mengamalkannya di masyarakat agar Aswaja lebih berkembang hingga masyarakat luas.
2. Aswaja berkembang pesat dan banyak di anut di dunia.
3. Santri adalah penjaga gerbang terakhir untuk keberlangsungan Aswaja.
4. Terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan
umat dengan Melaksanakan dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi Munkar.
5. Saat Aswaja di pandang sebagai sebuah metode keilmuan,para santri mampu menjawab permasalahan keberagaman.
Nahdlatul Ulama didirikan adalah berlakunya ajaran Islam Yang menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah dan menurut salah satu Dari Madzab empat untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratisdan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat dengan Melaksanakan dakwah Islam dan amar makruf nahi Munkar.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Pada makalah diatas disimpulkan bahwa konsep pengembangan masyarakat Islam dalam modernisasi pesantren adalah bahwa pengembangan masyarakat merupakan proses atau cara untuk meningkatkan atau mengembangkan kualitas masyarakat Islam dalam bidang ekonomi, sosial dan lingkungan. Secara umum pengembangan masyarakat harus dimulai dari pengembangan individu dengan cara mengembangkan sumberdaya manusianya. Pesantren merupakan lembaga pendidikan, sedangkan lembaga pendidikan itu adalah proses pembaharuan anak manusia untuk menjadi cita ideal dirinya sesuai perkembangan zaman. keseimbangan imtaq dan iptek, keberagaman ciri khas dan progam pendidikan, pemanfaatan watak kemandirian, dan ketajaman visi dalam membaca kebutuhan lingkungan. Dalam hal ini pola modernisasi pesantren harus mengedepankan Modernisasi pesantren harus tetap tertumpu pada asas keIslaman, dan dalam batas tertentu juga mempertahankan ciri khas tradisionalitasnya yang antara lain memuat nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan,dan kemandirian untuk menjadikan aswaja berkembang secara baik.
B. SARAN
Diharapkan bagi lembaga pendidikan agama atau pesanren hendaknya melakukan pengembangan sesuai dengan pola aswaja yang ditunjukkan pada materi diatas. Pengembangan pesantren tidak harus meninggalkan tradisi lama karena hal itu bisa menjadi ciri khas pesantren di nusantara.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Al.2010.Pembaruan Pendidikan di Pesantren Kediri.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Departemen Agama RI Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam Pondok Pesantren dan Madrasah Diniya.Jakarta:2003
https://www.nu.or.id/post/read/61907/tiga-ciri-utama-pesantren-menurut-menag
Zubaidi,Alex Yusron Al Mufti. 2020.Risalah Ahlussunnah Waljamaah An-Nahdliyah. Jepara: Unisnu Press
Zamakhsyari Dhofier,1982, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta: LP3ES, hlm. 44.
Hasan Muarif Ambary, 1998, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hlm. 58.
Azyumardi Azra,2000, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hlm.51.